Andhika Kesuma Putra, Dokter Paru yang Syahid di Masa Pandemi

Sembilan tahun yang lalu.

Saya lupa tahun berapa detailnya. Yang saya ingat, pertemuan itu adalah rangkaian dari event IKA Plus Back To School. Saya masih kelas XII saat itu. Momen di mana saya dan teman seangkatan lain butuh referensi, akan ke mana dan ingin menjadi apa. Beruntung SMAN Plus punya Ikatan Keluarga Alumni yang solid. Tentu tidak sempurna. Tapi sedikit kepedulian dari kakak alumni begitu berarti bagi kami yang butuh arah saat itu.

Seingat saya, ini adalah event pertama. Jika sebelumnya alumni sekolah pada umumnya menyelenggarakan buka bersama di bulan Ramadhan, kala itu IKA SMAN Plus mencoba terobosan baru. Bagaimana jika alumni hadir ke sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman? Dan benar. Terobosan baru itu menjadi rutinitas tahunan yang mengundang alumni dari lintas generasi dan berbagai latar belakang.

IKA Plus Goes To School perdana mengundang beberapa alumni generasi awal. Salah satu pembicara yang hadir adalah dokter spesialis paru lulusan Universitas Sumatera Utara. Andhika Kesuma Putra namanya. Beliau adalah generasi 1 dan saya generasi 12. Jarak kami lumayan jauh. Lebih dari 10 tahun. Tapi jarak yang jauh tidak membuat terbatas hubungan bukan?

Tidak sedikit pun terpikir oleh saya menjadi dokter saat itu. Tapi entah kenapa, saya merasa perlu saja untuk bertemu dengan beliau. Bersama dengan seorang teman angkatan lain, kami pun bertemu usai sesi di panggung. Dengan rendah hatinya beliau memberikan kartu namanya kepada teman saya. Kini, teman saya tersebut sudah lulus dari Kedokteran UGM, setelah sebelumnya kuliah singkat di Kesehatan Masyarakat UI.

Perjalanan setiap orang tidak akan ada yang pernah tahu. Hanya Allah yang paling tahu dan Maha Tahu atas segala yang terjadi atas makhluk-Nya.

Sekian tahun berlalu, tidak pernah lagi saya bertemu dengan beliau. Saya hanya sesekali melihat postingannya di Facebook. Hobinya unik. Seorang dokter spesialis paru, tapi punya hobi merawat ikan. Bukan ikan di akuarium biasa. Entah saya tak tahu apa nama ikannya. Bentuknya asing karena memang bukan ikan biasa. Ikan air tawar yang salah satunya bernama Arapaima, sang predator air tawar terbesar di dunia. Coba saja lihat postingannya jauh di tahun-tahun lalu. Kehidupannya yang sederhana dan ikan peliharaannya.

Sosok yang sederhana dan rendah hati. Mau melihat dari mana, sulit sekali melihat kesombongannnya. Apalagi dengan segala yang dia raih hingga saat ini. Beberapa hari sebelum menulis ini, di sebuah story Instagram teman seangakatan saya menulis: (yang kebetulan mereka pernah bertemu di Eropa)”

“Abangnda Andika orangnya sangat baik, pintar, ceria, sangat senang belajar hal baru dan salah satu orang yang sangat religious yang pernah saya kenal.”

“Salah satu teman baiknya @anggraini_ritonga (Kak Gege) perna cerita. Sebagai seorang dokter paru yang sangat berpengalaman dan bertalenta, abangnda bisa menghasilkan puluhan juta Rupiah tiap bulannya. Tapi ketika Kak Gege iseng cek akun bank onlinenya, Cuma ada 5-10 juta (kalau tidak salah). Jawaban abangnda ke Kak Gege sangat mengejutkan. Karena abangnda Cuma perlu uang tiap bulan hanya untuk kehidupan keluarganya saja sudah cukup. Sisa uangnya selalu ia bagi dan donasikan kepada pantia asuhan dan orang yang membutuhkan tiap bulannya.”

Ini hanya satu dari sekian banyak postingan Instagram di awal Agustus 2020. Sebuah cerita jujur dari mereka yang pernah mengenal sosok Andhika Kesuma Putra. Begitu banyak kesan baik yang mereka rasakan. Termasuk para guru yang dulunya pernah mengajarkannya. Ah, bagaimana pula tidak bangga para guru memiliki seorang murid yang cerdas dan rendah hati sepertinya.

Saya tentu tidak pernah melihat bagaimana keseharian beliau semasa sekolah. Apalagi generasi awal-awal SMAN Plus adalah masa-masa “perjuangan”. Lokasi sekolah belum di Kubang seperti sekarang. Masih di Pasir Putih yang kondisinya serba terbatas. Tapi dengan segala keterbatasan tidak membuat dia berbuat seadanya saja. Terbukti prestasinya di sekolah di atas rata-rata. Tidak selalu juara kelas, tapi selalu peringkat atas. Menariknya, banyak temannya lebih suka bertanya kepadanya dibandingkan yang juara kelas. Entah apa alasannya. Mungkin karena keterbukaannya dengan siapa saja.

Anggota generasi pertama yang berasal dari Tembilahan ini bukan hanya terbuka kepada teman seangkatannya saja, tapi juga adik kelasnya. Padahal kami anak asrama cukup tahu bahwa hubungan kakak dan adik kelas tidak baik-baik saja. Konflik antar generasi karena berbagai alasan, baik yang masuk akal atau dibuat-buat pasti ada saja. Tapi tidak berlaku untuknya. Salah seorang juniornya menuturkan keramahannya. Sering diajak diskusi, bermain bersama, bahkan tidur di kamar yang sama. Ya namanya anak asrama, hal ini tentu biasa. Tapi jika sudah lintas angkatan, tentu hal tersebut begitu istimewa. Bukan hanya di masa asrama. Semasa kuliah pun kebaikan itu masih berlanjut. Bahkan beliau mengajaknya jika kuliah di kampus yang sama, pakai saja buku-bukunya untuk menghemat biaya.

Sederhana, rendah hati, cerdas, ramah, dan berbagai kesan lain tersampaikan. Hingga saat suatu hari dia mengirimkan sebuah chat kepada rekan sesama dokter, tidak ada yang tahu bahwa hal tersebut benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

“Aku insyaallah siap sahid Bang untuk covid ini.”

Kini, beliau sudah tiada. Tapi kenangan baiknya akan tetap ada.

Selamat jalan kanda Andhika Kesuma Putra. Semoga amalanmu diterima, diampuni segala dosa, dan ditempatkan di surga terbaik. Aamiin

***

Penulis: Rezky Firmansyah (Generasi 12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *