Profil Ketua IKA: Fitra Lestari

FITRA LESTARI; JEJAK PEMBAHARU DAN PERJUANGAN
Ketua IKA SMAN Plus Provinsi Riau, Periode 2011-2014
Oleh Hamda Alfansuri (Gen 16)

Fitra
Fitra dan keluarga 🙂

Di dalam sebuah komunitas atau lembaga yang luar biasa tentu ada orang-orang luar biasa pula di baliknya. Satu di antaranya adalah Fitra Lestari, ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMAN Plus Provinsi Riau periode 2011-2014. Dalam masa jabatannya, banyak program kerja yang telah terlaksana dengan baik.

Kelahiran Bangkinang, 16 Juni pada 31 tahun silam ini, memiliki hobi membaca berita dan memainkan si kulit bundar. Fitra telah menyenangi permainan sepak bola sejak umur 10 tahun sehingga tak heran kalau selama SMA ia pernah menjadi kapten sepakbola sekolah. Namun saat ini Fitra mengaku sudah jarang bermain bola, dikarenakan stamina yang sudah tidak seperti dulu lagi. Fitra juga mengoleksi merchandise klub sepakbola AC Milan.

Sebagai civitas akademis, Fitra menyelesaikan program sarjananya di program studi Teknik Industri di Universitas Andalas dan program pasca-sarjana di UTM Malaysia prodi Industrial Enginnering. Saat ini ia sedang menunggu wisuda program doktoral di UTM Malaysia dengan konsentrasi di bidang Supply Chain Strategy. Fitra juga aktif menjadi dosen prodi Teknik Industri di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Semenjak SMA, semangat kepemimpinan dan keinginan untuk terus maju sudah terlihat dari sosok Fitra, dibuktikan dengan catatan prestasi dan pengalaman berorganisasinya di mana Fitra pernah menjadi Bendahara II OSIS SMAN Plus (2002), Koordinator Bidang Olahraga OSIS SMAN Plus (2002); Ketua Angkatan 2003 Teknik Industri Unand (2003-2007); Sekretaris Umum Fakultas Teknik Unand (2006/2007); Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di UTM (2009/2010) dan Ketua Ikatan Keluarga Alumni SMAN Plus (2011-2014).

Di balik pencapaiannya saat ini, tentu ada banyak perjuangan dan kisah-kisah yang akan terus dikenang. Dibesarkan di sebuah daerah kecil di Bangkinang, Fitra mempunyai keinginan besar untuk bisa menempuh pendidikan merantau ke luar tempat kelahirannya. Awalnya ia berkeinginan untuk masuk SMU Taruna Nusantara yang merupakan salah satu sekolah unggulan di Indonesia dengan basis militer, namun sayangnya ia mengalami kegagalan pada tahapan akademik. Tapi keinginan besar itu tidak padam, berawal dari informasi senior SMP tentang SMAN Plus, Fitra mencoba mendaftar dan akhirnya diterima. Kondisi fisik SMAN Plus ketika itu sempat membuat Fitra ragu karena sarana dan prasarana yang ada masih jauh dari kata nyaman untuk sebuah sekolah berasrama. Belum lagi akses yang jauh dari keramaian.

Keraguan yang pada awalnya dirasakan Fitra, mulai tertutupi oleh pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Seperti misalnya ketika ikut dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di SMAN Plus, Fitra mengaku mendapatkan pelajaran untuk bisa berpikir kritis dan peka terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya, di tengah kondisi di mana kebanyakan SMU hanya mendidik siswanya untuk belajar dan menembus universitas favorit. Selain itu Fitra belajar untuk menentukan dan menyusun mimpi-mimpinya. Pola asuh dari guru dan senior yang ada ketika itu menurutnya sangat bermanfaat karena memudahkan para siswa untuk berkeluh kesah baik dalam persoalan belajar ataupun kehidupan berasrama.

Bagi Fitra, banyak pelajaran hidup yang didapat selama berada di SMAN Plus, salah satunya adalah jiwa kompetisi. Kompetisi dalam hal ini bukan tentang mengalahkan orang lain tapi menumbuhkan rasa malu jika mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Ia juga menyebutkan bahwa ia belajar tentang rasa survive, perjuangan dan terlatih untuk tetap semangat walaupun di bawah tekanan ketika melalukan sesuatu sehingga mengerahkan kemampuan semaksimal mungkin. Selain itu ada rasa rindu yang muncul setelah meninggalkan asrama SMAN Plus, terutama cara komunikasi yang harmonis antar-komponen, guru dan siswa, senior dan junior, yang dijalin dengan kedekatan yang amat, sebagai tempat curhat dan teman main serta bercanda. Fitra juga merindukan masa-masa mampir ke kamar teman yang kedatangan orang tua ke asrama. Terbatasnya makanan dan minuman membuat orang tua seringkali membawa persediaan yang banyak setiap kali datang ke asrama. Sehingga tak heran, setelah dikunjungi orang tua, kamar seorang siswa SMAN Plus mendadak bisa ramai didatangi teman-teman 🙂

Setelah pernah merasakan tiga tahun kehidupan di SMAN Plus, Fitra berpesan pada siswa yang masih menimba ilmu di sekolah ini untuk bisa melatih diri agar tetap survive dan berjiwa mandiri karena masa sekolah di SMU adalah masa muda yang indah yang tidak akan pernah terulang.

Saat ditanya mengenai kondisi IKA di masa ia menjabat sebagai ketua, Fitra menyebutkan tentang tantangan dalam menyinergikan semua angkatan. Saat Fitra menjadi ketua IKA SMAN Plus, sudah ada 11 angkatan alumni sehingga perlu diadakan kegiatan yang bisa mengakomodasi semua angkatan untuk bisa berpartisipasi dan dapat saling berinterksi dan berkomunikasi, baik itu lewat kegiatan yang sederhana sekalipun. Menurut Fitra, yang paling penting adalah semua angkatan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan IKA SMAN Plus, melalui kegiatan itu kita bisa membentuk jaringan dan memperoleh kontak person dari setiap angkatan.

Ke depannya, Fitra berharap IKA SMAN Plus akan bisa mewadahi siswa untuk bisa mendapatkan informasi mengenai kehidupan setelah SMA dan selanjutnya menjembatani sesama alumni SMAN Plus untuk bertukar informasi agar bisa mewujudkan solidaritas. Fitra juga menyampaikan bahwa saat ini komunikasi antar-angkatan dalam IKA SMAN Plus sudah terjalin dengan cukup baik. Masukan dari Fitra untuk kepengurusan selanjutnya adalah perlunya mempertimbangkan dan mengupayakan kegiatan yang bisa mengakomodasi dan memediasi individu-individu lulusan SMAN Plus yang pastinya memiliki segudang potensi, kompetensi dan prestasi. Ia juga mengharapkan agar para alumni bisa menjadi pembaharu bagi masyarakat, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan Indonesia. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *