Bedah Buku Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi

Minggu, 10 November 2019 bertepatan dengan Hari Pahlawan, Ikatan Alumni SMAN Plus Provinsi Riau menyelenggarakan acara bedah buku Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi, biografi resmi Pierre Tendean. Acara ini diadakan di Ruang Pertemuan SMAN Plus Provinsi Riau pada pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Bedah buku ini diikuti oleh siswa-siswa dan alumni SMAN Plus Provinsi Riau.

IMG-20191112-WA0007

Narasumber sedang memaparkan materinya.

Buku Sang Patriot ditulis oleh enam penulis yakni Iffani Saktya, Irma Rachmania Dewi, Laricya Umboh, Neysa Ramadhani, Noviriny Drivina, dan Ziey Sullastri, dengan editor Abie Besman dan diterbitkan oleh Penerbit Kompas pada Februari 2019 lalu. Acara bedah buku ini menghadirkan dr. Noviriny Drivina, S.pM, selaku salah satu penulis dari buku Sang Patriot. Selain itu, acara ini juga menghadirkan narasumber Donny Sheyoputra, S.H.,M.Si(Han), LLM yang membahas tentang sejarah peristiwa G30S dan sekitarnya, dan narasumber Ir. Rahman Ardhianto MM yang membahas alternatif belajar sejarah bagi milenial.

Nama Pierre Andries Tendean, meski kerap dijadikan sebagai nama jalan, bangunan atau monumen, tak membuat sang pemilik nama dikenal terang benderang. Banyak informasi mengenai Pierre yang berkembang liar tanpa pernah diketahui kebenarannya. Maka, hal ini yang menjadi motivasi penulis untuk menghadirkan buku ini ke tengah pembaca, “Pierre berhak untuk dikenal” ungkap Noviriny. Buku ini merupakan buku pertama dalam rentang waktu 54 tahun sejak tragedi 1965 yang menulis tentang sosok Pierre Tendean. Buku ini menulis tentang Pierre Tendean dari sudut pandang keluarga dan rekan-rekan dekatnya.

Acara bedah buku ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dan bertujuan memberikan arti penting belajar sejarah dan mengenang jasa pahlawan. Pada sesi terakhir, narasumber Ir. Rahman Ardhianto MM menjelaskan alternatif belajar sejarah bagi milenial, agar belajar sejarah tidak terasa membosankan dan kaum milenial dapat dengan cerdas belajar sejarah yang benar ditengah arus informasi yang dapat mencitakan asimetri informasi.